Bagaimana Nak Tahu Hati Masih Hidup Dan Amal Soleh Diterima Allah

0
1525
views

Hari ini, manusia kering dari amal. Hari ini, amal kering dari kesalehan. Hari ini, kesalehan kering dari merajuk ridha Allah. Dan hari ini, harapan akan ridha Allah kering dari kerendahan hati.

Hari ini, seakan-akan surga dan ridha Allah sudah tak cukup lagi menyemangati amal saleh. Hari ini, bahkan keberhasilan sebuah amal saleh, diukur oleh manusia-manusia kerdil dengan seberapa banyak dan seberapa cepat balasan dunia didapat.

Lalu diperlombakan Lalu dibanggakan. Lalu dipanggungkan untuk mendapat puja-pujian. Lalu dijual sebagai barang dagangan.

Sungguh tidaklah demikian pemahaman para pendahulu kita yang saleh.

***

Awal-awal adalah soal keikhlasan yang amat berat.

“Semua amalku yang dilihat orang sama sekali tidak kuanggap,”

Demikian Imam Sufyan Ats-Tsaury pernah berkata,

“sebab betapa sukarnya bagi orang seperti kita untuk ikhlas ketika mata-mata menatap, wajah-wajah takjub, dan pujian menyebar.”

Aduhai, beliau bicara tentang keadaan dirinya, seorang alim mulia dari kalangan kurun terbaik setelah para shahabat dan para tabiin.

Bagaimanakah dengan kita di zaman ini?

Tak ada yang lebih sukar ditangani daripada niat ini,” ujar beliau lagi di lain kali,

Betapa mudah ia berbolak-balik. Dan tak ada yang lebih sukar diberantas daripada riya, penyakit ingin dilihat manusia ketika beramal. Seakan, setiap kali kutebas, ia tumbuh kembali dalam wujud yang lain. “

***

Yang kedua adalah bahwa balasan amal baik dari orang-orang kafir akan digenapkan di dunia.

Adapun orang-orang mukmin mendapatinya sempurna di akhirat. Ada kalanya dengan cicipan kabar gembira dengan berupa-rupa bentuk di dunia.

Atau kalaupun tidak, sang peyakin sejati tak dirugikan sedikitpun juga.

Selama hidup di dunia, tak pernah ada manusia yang bisa memastikan bahwa amal salehnya diridhai dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan hati seorang mukmin harus senantiasa berada dalam keadaan harap sekaligus cemas soal itu.

Di dunia, kita hanya dapat meraba tanda-tanda. Tapi jangan kiranya salah menentukan tanda.

Sebagian orang misalnya mengira, tanda khusyunya shalat adalah keberhasilan untuk bersendu-sendu dan menangis syahdu saat berdiri, ruku, dan sujud. Namun, pengikat kebaikannya ternyata bukan itu.

Ujar Imam Al-Ghazali,

“Tanda solat yang khusyu’ adalah tercegahnya sang pelaku dari berbuat keji dan mungkar hingga ke solat berikutnya. Jika Subuhmu khusyu’, maka antara Subuh hingga Zohor kau kan terjaga dari memperbuat yang nista dan yang jahat hingga tibanya waktu Zohor. Begitu seterusnya.”

Jadi, apa tanda diterimanya amal? “Tanda diterimanya amal hamba di sisi Allah,” demikian Imam Ibn Rajab Al-Hanbali menjelaskan, “adalah ketika satu ketaatan menuntunnya pada ketaatan yang lebih baik lagi.”

Adapun tanda ditolaknya amal seorang hamba,” lanjut beliau, “adalah ketika ketaatannya disusuli dengan kemaksiatan. Dia tak tercegah darinya.”

Antara taubat diterima adalah dapat membebaskan diri dari belenggu dosa dan maksiat

“Dan tanda diterimanya taubat seorang hamba,” tambahnya, “adalah jika kesilapan lalunya tak diulang dan dia terus sibuk dalam ketaatan. Kebaikan sesudah keburukan akan menghapus yang nista itu. Dan hal yang lebih baik sesudah kebaikan mengantar pada ridha-Nya.”

 

– Salim A. Fillah

Mahukan Artikel Seperti Ini Lagi? Sila Isi Form Dibawah

mm
Website yang menumpukan bahan bacaan islamik bagi yang memerlukan untuk pengisian rohani mereka. Jangan lupa like FB dan follow Twitter untuk dapatkan makluman artikel terbaru daripada kami.
Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply