Jika Babi Diharamkan, Apa Hikmah Penciptaannya?

0
1080
views

151030162634_pig_mud_640x360_lynnm.stonenpl_nocredit

Salah satu argumen “kritis” yang diajukan oleh oreantalis adalah

“Mengapa babi diciptakan jika ia haram? Untuk apa diciptakan jika tidak ada manfaat?”

Bagi kita umat Islam, sebenarnya telah cukup dengan beriman kepada apa yang Allah tetapkan dalam Al Quran. Tidak perlu lagi ragi-ragu dengan hikmah yang telah diaturkan Allah.

Bahkan, pengharaman babi disebutkan empat kali dalam A Quran. Yakni pada Surat Al Baqarah ayat 173, Surat Al Maidah ayat 3, surat Al An’am ayat 145 dan surat An Nahl ayat 115.

Oreantalis yang menganut Kristian yang menggunakan babi (makan, pakaian), seharusnya sedar bahawa babi juga haram dalam Injil. Dr Zakir Naik menjelaskan, larangan makan babi termaktub dalam kitab Imamat 11:7-8, kitab Ulangan 14:8 dan kitab Yesaya 65:2-5.

Jadi jika diharamkan untuk apa babi diciptakan? Di antara hikmah penciptaan babi adalah:

1. Untuk menguji manusia

Babi yang diharamkan sebenarnya merupakan ujian untuk manusia seberapa ia patuh kepada Sang Pencipta. Manusia yang memakannya, maka ia tidak lulus dalam ujian itu. Manusia yang berpegang teguh pada larangan Allah dengan tidak memakannya, maka ia lulus dalam ujian itu.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah (Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)

2.  Babi membawa penyakit yang mengancam nyawa

Manusia adalah khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi. Banyak haiwan yang dikira tidak memiliki manfaat ternyata membuat manusia menjadi kreatif dan berdaya. Termasuk babi.

Dengan adanya babi, manusia dapat mengkaji dan mengetahui tentang berbagai penyakit yang dibawa binatang itu dan untuk mencari penawarnya.

Seperti diketahui, babi mengandungi cacing pita bahkan merupakan pembawa virus flu babi (swine influenza).

what-is-swine-flu

3. Sebagai pengajaran agar tidak menjadi sepertinya

Babi terkenal sebagai binatang yang malas, pengotor dan rakus. Begitu pengotornya babi, ia sampai memakan najisnya sendiri. Bahkan, makanan yang akan ia makan kadang-kadang dikencing dulu sebelum dilahap.

Rakusnya babi bisa dilihat dari makanan apapun yang ada di depannya akan dilahap. Sampah dan kotoran pun dilahap. Bahkan demi memuaskan kerakusannya, makanan yang telah memenuhi perutnya dimuntahkan kemudian dimakannya kembali.

Adanya babi selayaknya mengingatkan manusia agar tidak malas, tidak pengotor dan tidak rakus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan babi sebagai perlambang keburukan. Bahkan, ada kaum terdahulu yang dikutuk menjadi babi karena perbuatan buruknya.

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah (Muhammad), “Apakah aku akan beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al Maidah: 60)

KUPON BUKU DISKAUN RM5 IMANSHOPPE

mm
Website yang menumpukan bahan bacaan islamik bagi yang memerlukan untuk pengisian rohani mereka. Jangan lupa like FB dan follow Twitter untuk dapatkan makluman artikel terbaru daripada kami.

Leave a Reply