Larangan Menghina Mereka Yang Terlanjur Melakukan Maksiat

0
1046
views

Terkadang ada saudara kita yang melakukan dosa atau maksiat, kemudian menjadi bahan perbincangan atau ghibah.

Padahal mungkin pelaku dosa tersebut sudah bertaubat dari dosa tersebut.

Mengenai hal ini, mari kita perhatikan nasihat dari beberapa ulama, iaitu orang yang menjelek-jelekkan saudaranya yang sudah bertaubat dari dosa, mungkin dia akan melakukan dosa tersebut.

Misalnya ada teman kita yang telah terlanjur berzina, maka kita pun heboh membicarakannya ditambah pula dengan mencelanya melampau-lampau.

Hal ini sebaiknya dihindari, sikap muslim adalah diam, menasihati dengan hikmah, dan berharap kebaikan pada saudaranya telah terlanjur itu melebihi dosanya dan sudah menyesal dan mengaku salah.

Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan, ini kerana, takut-takut, orang yang terlalu mencela orang yang telah bermaksiat, dibimbangi akan terjerumus dalam dosa yang sama kerana ada faktor kagum terhadap dirinya sendiri, sombong dan mensucikan diri.

Seolah dia berkata orang yang terjerumus dalam maksiat/dosa itu, lihatlah aku, kebal terjerumus dalam dosa itu.

Tentu ini bentuk kesombongan yang nyata dan sangat merendahkan orang lain.

Demikian juga Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa mengejek-ejek saudaranya yang telah melakukan dosa, maka besar kemungkinan ia akan melakukan dosa tersebut.

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau dipastikan akan melakukan dosa tersebut.”

Beliau melanjutkan penjelasan bahawa dosa mencela saudaranya yang telah melakukan dosa itu lebih besar dari dosa itu yang dilakukan oleh saudaranya.

Beliau berkata:

“Engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan saudaramu dan maksiat yang lebih besar, kerana menghilangkan ketaatan dan merasa dirinya suci.”

Para ulama sudah mengingatkan mengenai hal ini, terlebih mereka adalah orang yang sangat berhati-hati dan takut kepada Allah.

Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,

“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.”

Hasan Al Basri berkata,

“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep: barang siapa yang mencela saudaranya kerana dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka si pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.”

Semoga kita dapat menjaga lisan kita kerana lisan sangat berbahaya jika tidak dikawal.

kredit

Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺧَﺮِﻳﻔًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.”

Jika kita menjaga lisan, Nabi shallAllahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin syurga kepada kita. Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦْ ﻟِﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻟَﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, nescaya aku menjamin syurga baginya.”

Mahukan Artikel Seperti Ini Lagi? Sila Isi Form Dibawah

mm
Website yang menumpukan bahan bacaan islamik bagi yang memerlukan untuk pengisian rohani mereka. Jangan lupa like FB dan follow Twitter untuk dapatkan makluman artikel terbaru daripada kami.
Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply