Percaya

0
141
views

Percaya

percayaPercaya | Suka untuk saya kongsikan hasil pembacaan buku yang begitu indah karyanya , ‘Dalam Dekapan Ukhuwah’ hasil Salim A.Fillah.

**********

Asas utama dalam hidup berjamaah yang sekukuh janji adalah kepercayaan.

Umar ibn Al Khattab sedang duduk di bawah sebatang kurma. Serbannya dilepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bahagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imaratnya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka sahabat bertukar fikiran dan membahas berbagai persoalan.

Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. Abdullah ibn ‘Abbas. Berulangkali Umar memintanya bicara. jika perbedaan wujud, Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Zar Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.

Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya.

“Wahai Amirul Mukminin,” ujar salah seorang daripada mereka ” Tegakkanlah hukum Allah atas pembunuh ayah kami ini! ”

Umar bangkit. “Takutlah kalian kepada Allah!” ujar Umar. “Perkara apakah ini?”

Kedua pemuda itu menegaskan bahawa pria belia yang mereka bawa ini adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahawa si pelaku ini telah mengaku.

Umar bertanya kepada sang tertuduh, “Benarkah apa yang mereka dakwakan kepadamu ini?”

“Benar wahai Amirul Mukminin!”

“Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” Umar menyelidik dengan teliti.

“Ceritakanlah kejadiannya!”

“Aku datang dari negeri yang jauh, ” kata pemda itu. “begitu sampai di kota ini, aku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebun milik keluarga mereka. Ku tingggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu hajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai makan sebahagian tanaman yang ada di kebun mereka.”

“Saat aku kembali,” lanjutnya sembari menghela nafas, ” Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga haiwan malang itu tewas mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada Allah kerananya.”

Umar termenung.

“Wahai Amirul Mukminin,” kata salah satu dari kedua adik beradik itu, “Tegakkanlah hukum Allah. Kami minta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar jiwa”

“Bersediakah kalian,” ucap Umar ke arah pemuda penuntut qishash,”menerima pembayaran diyat dariku atas pemuda ini dan memaafkannya?”

Kemudian pemuda itu saling pandang, ” Demi Allah, hai Amirul Mukminin, ” jawab mereka. “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Hati kami baru tenteram jika had ditegakkan!”

Umar terhenyak. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya kepad pemuda sang terdakwa.

“Aku ridha hukum Allah ditegakkan ke atasku, wahai Amirul Mukminin” kata si pemuda dengan yakin.

“Namun ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda mahupun perkara yang harus aku sampaikan kembali kepada mereka. Demikian juga keluargaku. Aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka, juga memohon redha dan keampunan ayah dan ibuku”

Umar terenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus ditegakkan. tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan..”Jadi bagaimana?” tanya Umar.

“Jika engkau mengizinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk aku kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu, tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai Putera Al Khattab.”

“Adakah orang yang bisa menjaminmu?”

“Aku tidak memiliki seorang pun yang ku kenal di kota ini hingga dia bisa kuminta menjadi penjaminku. Aku tak memilki seorang pun penjamin kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

“Tidak! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak mengizinkanmu pergi”

“Aku bersumpah dengan nama Allah yang amat keras ‘adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku”

“Aku percaya. Tetapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”

“Aku tak punya!”

“Wahai Amirul Mukminin!” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya!”. Inilah dia Salman al Farisi yang tampil mengajukan diri.

“Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”

“Benar, aku bersedia!”

“Kalian berdua adik beradik yang mengajukan gugatan, ” panggil Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini. Adapun Salman demi Allah, aku bersaksi tentang dirinya bahawa dia lelaki kesatria yang jujur dan tak sudi berkhianat.”

Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.

Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. Umar gelisah tak keruan. Dia mundar-mandir sementara Salman duduk khusyu’ di dekatannya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di hujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.

percaya

Waktu terus menghambat. Pemuda itu masih belum muncul.

Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para sahabat berkumpul mendatangkan Umar dan Salman. Demi Allah mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal (ganti). Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk Islam begitu besar itu . Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.

Satu demi satu dimulai dengan Abu Darda’ beberapa sahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan kepadanya. Tetapi Salman menolak. Umar juga menggeleng. Matahari terus lingsing ke barat. Kekhawatiran Umar makin memuncak. Para sahabat makin kalut dan sedih.

Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari bertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terhukum “Maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, “Urusan untuk kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat beristirehat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa ku tinggalkan di tengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai ke mari hingga nyaris terlambat”

Semua yang melihat wajahnya dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan hiba. Semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.

“Pemuda yang jujur,” ujar Umar dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”

“Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum Muslimin.”

“Dan kau Salman,” kata Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”

“Sungguh jangan sampai orang bicara,” ujar Salman dengan wajah yang teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mahu saling membahagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi rasa saling percaya di antara orang-orang Muslim.”

“Allahuakbar!” kata Umar, “Segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati umat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”

Pemuda itu mengangguk pasrah.

“Kami memutuskan….” kata salah seorang dari adik menyeruak. “Untuk memaafkannya,” Mereka tersedu sedan.

“Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepati janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin.”

“Alhamdulillah! Alhamdulillah!” ujar Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan asma Allah, yang kemudian bahkan diikuti oleh semua hadirin.

“Mengapa kalian tiba-tiba berubah fikiran?” tanya Umar pada kedua ahli waris korban.

“Agar jangan sampai ada yang mengatakan, ” jawab mereka masih terharu, “Bahawa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, hiba hati dan kasih sayang.”

**********

Allahumma, satukanlah hati-hati kami. Biarpun jauh terpisah dek jarak dan masa tetapi hati-hati ini menjadi satu dekat kerana menyintaiMu.

 

FTI
Kaherah, Mesir

Mahukan Artikel Seperti Ini Lagi? Sila Isi Form Dibawah

mm
Website yang menumpukan bahan bacaan islamik bagi yang memerlukan untuk pengisian rohani mereka. Jangan lupa like FB dan follow Twitter untuk dapatkan makluman artikel terbaru daripada kami.
Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply