Pesanan Ikhlas Buat Mahasiswa Baru – Usaid Asmadi

0
2435
views

Assalamualaikum buat teman-teman dan sahabat. Semoga kalian terus sihat wal ‘afiat.

Pertama-tamanya ucapan tahniah daripada saya buat kalian. Kerana kalian kini akan diangkat naik satu tangga status dalam pendidikan di Malaysia.

Dahulu kalian dilihat sebagai budak sekolah, kini kalian bakal dipanggil sebagai Mahasiswa.

MAHASISWA ROBOT DAN ILMU

Soalnya, kalian mengertikah apa itu Mahasiswa?

Benar. Universiti tidak akan sama dengan alam sekolah. Berbeza pelbagai sudut dan penjuru. Dari soal pemakaian hinggalah ke soal subjek dan pembelajaran.

Amat berbeza. Tapi ada satu perkara yang sama dan selalu mahasiswa gagal untuk ubahnya sementelah menjejak kaki ke universiti.

Sikapnya terhadap ilmu.

Jangan disamakan akal kalian seperti stor simpanan. Yang kerjanya hanya menerima sahaja. Kemudian disimpan dan diperap.

Sudah sampai satu masa, kalian muntahkan di atas kertas peperiksaan. Dan habis begitu sahaja. Begini bukan kalian ketika di sekolah?

Jika inilah kalian lakukan walaupun sudah bergelar mahasiswa, sungguh kalian sudah merugikan masa kalian di Universiti.

Paulo Freire menempelak sikap pelajar yang hanya menjadi stor maklumat. Sedangkan sifat pendidikan itu seharusnya dua hala. Mahasiswa itu belajar dan juga mengajar. Begitu juga pensyarah.

Mereka bukan sahaja kerjanya mengajar, tapi juga belajar daripada Mahasiswa. Ini yang menjadikan akal kalian itu terus berfikir dan kritis. Bukannya menjadi statik, jumud dan beku.

Jika kalian hanya terima dan menurut sahaja, apa beza kalian dengan robot?

MAHASISWA AGEN PERUBAHAN

Mahasiswa yang saya hormati,

Kalian bakal menjadi tiang seri negara. Benar, tidak saya nafikan. Cuma soalnya, negara yang bagaimana yang kalian mahukan untuk kalian menjadi tiang serinya?

Adakah negara yang pemimpinnya zalim?

Negara yang keadilannya diperkotak-katikkan?

Masyarakat yang caca merba nilai moralnya?

Sistem yang rosak tidak ditambah baik segera?

Golongan politikus dan agamawan yang berterusan menunggang amanahnya?

Impilah negara yang kalian mahu menjadi tiang serinya. Dan gemblenglah tenaga kalian untuk menuju ke arah negara yang kalian impikan. Jadikan ia sebuah realiti.

Dan mulakan langkah kalian itu di universiti! Di hari pertama kalian menjejakkan kaki!

BUDAYA TAKUT DALAM MAHASISWA

Wahai Mahasiswa yang saya kasihi,

Ketika di awal masuknya kalian ke alam universiti, kalian mungkin akan dimomokkan dan ditakut-takutkan daripada terlibat dengan apa-apa perkara yang tiada kaitan dengan akademik kalian di universiti.

Seperti perhimpunan umum samada aman atau rusuh, kancah politik, program anjuran golongan kiri dan sebagainya.

Ancaman seperti digantung pembelajaran, biasiswa ditarik, keputusan peperiksaan ditahan dan dibuang dari universiti mungkin yang akan diperdengarkan.

Tidak, tidak saya katakan mereka itu salah. Mungkin ada benarnya juga mereka menghalang kalian daripada terlibat.

Cuma pesan saya, kalian perlu belajar untuk menilai. Hadirnya suatu cerita dan berita mahupun pemberitahuan yang terasa aneh, usah terlalu awal memberi jawapan balas.

Jangan kalian terlalu ghairah melayan gelojak darah muda kalian. Kalian perlu belajar untuk menilai atas dasar fakta dan hujah. Bukan atas dasar sentimen, ego dan sahsiah.

Bangunlah bertanya jika kalian merasakan ada sesuatu yang tidak kena pada kata-katanya. Apa guna medium soal jawab yang ada jika kalian tidak manfaatkan?

Bertanya jangan sampai tertinggal adab dan hikmah di belakang.

MAHASISWA EGOSENTRIK

Mahasiswa yang saya kasihi,

Kalian perlu berhenti menjadi mahasiswa yang “free floating intelegensia”. Mahasiswa yang dirinya imun dari kesan sosial sekitarnya.

Hidupnya hanyalah makan di kafe, hadir ke kuliah, main permainan video, dan sampai masa lena di atas katil.

Segalanya berkisar kepada ‘aku’, ‘aku’ dan ‘aku; diri sendiri.

Mahasiswa itu seharusnya cakna. Kalian sepatutnya tahu, sedar dan faham akan setiap sesuatu perkara yang berlaku di sekitar sosial kalian.

Kalian tidak sepatutnya menjadi seperti mahasiswa lain yang hidupnya jauh dari masyarakat. Seperti katak dibawah tempurung.

Kalian harus terjun didalam rencah masalah masyarakat. Bukannya untuk menambah perisa masalah, tetapi untuk kalian memahami mereka.

Lantas diutarakan solusi alternatif penyelesaian kepada masyarakat. Tanpa menunggu pihak lain lakukan kerja untuk kalian. Sungguh saya percaya kepada kuasa yang ada didalam tangan mahasiswa!

Suka saya ketengahkan ayat yang tidak saya pasti dari siapa. Saya terima ayat ini ketika saya hadiri Kongress Anak Muda Malaysia. Ayatnya berbunyi begini;

“Jika sekolah di Sabah tiada dinding, maka kitalah yang perlu singsingkan lengan untuk bina dinding sekolah!”

Seingat saya Saudara Adam Adli yang bicarakan. Entahlah.

Wahai mahasiswa,

Kalian perlu jadi penyelesai masalah. Dan perkara ini tidak akan berlaku jika kalian itu imun dari masyarakat. Usah kalian menambah masalah.

Cukuplah dengan masalah yang sedia ada yang perlu difikirkan dan diselesaikan. Dan hakikatnya untuk pengetahuan kalian, berdiam diri juga memberi masalah.

Jangan jadi mahasiswa yang individualistik!

KESIMPULAN

Wahai Mahasiswa,

Terjunlah lah kalian dalam lautan ilmu pengetahuan. Banyakkan membaca buku, hadirlah ke wacana dan diskusi, jumpalah dan bersembang, bertanya dengan tokoh-tokoh intelektual mahupun masyarakat jalanan.

Universiti itu punya banyak ruang untuk kalian penuhi dada kalian dengan ilmu dan hikmah. Dan dunia hari ini terlalu luas untuk kalian hanya melihat kebenaran itu pada satu sisi kotak kehidupan sahaja.

Mahasiswa itu semestinya perlu rajin membaca buku. Bukunya itu bukan sahaja dalam bidang yang dia sedang pelajari. Tapi bacalah dalam bidang-bidang yang lain.

Agar kalian jauh dari rasa taksub. Dan jauh dari akal yang jumud. Dan kalian juga berlaku adil dengan aliran ilmu yang lain.

Dr Syed Hussein Al-Attas menyarankan kita memperdalamkan diri dengan ilmu pengetahuan sekarang dan terkini. Kerana ilmu itu rohnya menguatkan diri.

Ilmu pengetahuan bukan sahaja daripada ilmuan Islam sahaja, malah apa-apa aliran yang bertentangan dengan Islam.

Jika tidak, mahasiswa akan terus terkebelakang. Kerana bagaimana mahasiswa akan tahu itu warna putih jika tidak mengenal warna hitam?

“…supaya dapat kita mengambil apa-apa kebenaran yang ada padanya, sambil kita menolak dasar materialisme ataupun nihilisme mereka”,

kata Syed Hussein Al-Attas.

Surat saya sudah dihujung tinta. Penat rasanya jari jemari ini menaip. Banyak sebenarnya yang saya ingin saja sampaikan kepada kalian. Tapi cukuplah sekadar ini dahulu.

Saya juga sedang menjadi mahasiswa seperti kalian. Dan apa yang saya tulis, saya juga sedang dalam proses yang kalian rasakan. Kalian tahu kenapa Hamka menulis?

Kerana Hamka mahu membaikkan dirinya. Begitu juga saya.

Salam Mahasiswa. Selamat Maju Jaya!

Usaid Asmadi
Aktivis Persatuan Belia Harmoni Malaysia

Mahukan Artikel Seperti Ini Lagi? Sila Isi Form Dibawah

mm
Website yang menumpukan bahan bacaan islamik bagi yang memerlukan untuk pengisian rohani mereka. Jangan lupa like FB dan follow Twitter untuk dapatkan makluman artikel terbaru daripada kami.
Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply